Gerai KDMP : Dibuka Untuk Ditutup?

opini 09 Jul 2026 08:11 3 min read 93 views By Kang Tholib
Gerai KDMP : Dibuka Untuk Ditutup?
Evaluasi Program KDMP

Program Gerai KDMP lahir dengan semangat yang patut diapresiasi. Tujuannya mulia, yakni menghadirkan pusat distribusi kebutuhan masyarakat di tingkat desa, memperkuat ekonomi kerakyatan, memperpendek rantai distribusi, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat desa.
Sebagai warga sekaligus jurnalis, saya melihat program ini menyimpan harapan besar. Namun, sebesar apa pun sebuah program, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya gerai yang diresmikan. Keberhasilan justru ditentukan oleh sejauh mana gerai tersebut mampu bertahan, beroperasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di lapangan, saya menemukan fakta yang memunculkan pertanyaan. Ada gerai yang sudah tidak lagi beroperasi, sementara ada pula gerai yang hingga kini belum dapat dibuka karena masih menghadapi kendala teknis maupun kesiapan infrastruktur. Kondisi ini mengundang pertanyaan yang menurut saya layak dijawab bersama: apakah seluruh gerai benar-benar telah siap ketika target pembukaan dikejar?
Sebuah gerai tidak cukup hanya memiliki papan nama dan seremoni peresmian. Agar dapat melayani masyarakat secara berkelanjutan, dibutuhkan pasokan barang yang stabil, pengelolaan yang profesional, sumber daya manusia yang siap, biaya operasional yang terpenuhi, serta dukungan infrastruktur yang memadai. Tanpa semua itu, gerai hanya akan menjadi simbol, bukan solusi.
Sebagai contoh, berdasarkan temuan yang saya peroleh di lapangan, Gerai KDMP Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, diketahui sudah tidak beroperasi. Sementara itu, Gerai KDMP Desa Sugio hingga kini masih menunggu rampungnya akses jembatan sebelum dapat beroperasi secara optimal. Saya menyadari bahwa dua contoh ini tidak dapat dijadikan gambaran seluruh Gerai KDMP. Namun, keduanya cukup menjadi pengingat bahwa kesiapan operasional tidak boleh dikalahkan oleh target administratif.
Menurut saya, masyarakat tidak terlalu mempersoalkan kapan sebuah gerai diresmikan. Yang mereka harapkan adalah gerai tersebut benar-benar buka, menyediakan kebutuhan yang dibutuhkan, dan mampu memberikan pelayanan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, manfaat nyata jauh lebih penting daripada seremoni.
Saya juga meyakini bahwa evaluasi bukanlah bentuk penolakan terhadap sebuah program. Justru melalui evaluasi, setiap kekurangan dapat diperbaiki sehingga tujuan awal program tetap dapat diwujudkan. Program yang baik tidak anti-kritik. Sebaliknya, program yang baik adalah program yang terbuka terhadap masukan dan berani melakukan pembenahan ketika ditemukan persoalan di lapangan.
Karena itu, pertanyaan "Gerai KDMP: Dibuka untuk Ditutup?" bukanlah sebuah vonis, melainkan sebuah refleksi. Sebuah ajakan untuk melihat kenyataan di lapangan secara jujur dan objektif. Bila memang masih terdapat kendala, maka yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan kemauan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memastikan bahwa setiap gerai benar-benar siap melayani masyarakat.
Saya percaya, keberhasilan Gerai KDMP pada akhirnya tidak akan dikenang dari berapa banyak gerai yang pernah diresmikan, melainkan dari berapa banyak gerai yang tetap hidup, berkembang, dan menjadi penggerak ekonomi desa. Di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
Sebagai penutup, saya berharap tulisan ini dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap sebuah program yang memiliki tujuan baik. Kritik yang disampaikan dengan dasar fakta dan itikad baik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mendorong lahirnya perbaikan. Sebab pada akhirnya, masyarakatlah yang paling berhak merasakan manfaat dari setiap program yang dijalankan.