Lelah yang Tak Pernah Mengeluh
Malam datang tanpa banyak suara.
Ia hanya membawa langit yang perlahan menggelap,
sementara aku masih duduk,
menghitung langkah yang entah sejak kapan
tak lagi sempat kuhitung.
Orang-orang mengira lelah
adalah tubuh yang meminta rebah.
Padahal ada lelah
yang tetap tersenyum di hadapan dunia,
meski di dalam dirinya
sedang runtuh pelan-pelan.
Aku pernah ingin berhenti.
Bukan karena tak lagi percaya pada tujuan,
melainkan karena jalan
terkadang lebih sunyi
daripada yang sanggup kupahami.
Ada hari-hari
ketika doa terasa pendek,
harapan terasa jauh,
dan waktu seolah berjalan
tanpa menoleh sedikit pun.
Namun hidup mengajariku satu hal:
bahwa pohon paling kuat
bukanlah yang tak pernah diterpa badai,
melainkan yang akarnya memilih bertahan
meski tanah di sekelilingnya terus berubah.
Maka malam ini,
biarlah lelah duduk di sampingku.
Tak akan kuusir.
Ia telah menemaniku cukup lama
hingga menjadi bagian dari perjalanan.
Esok pagi,
mungkin matahari belum menjawab semua pertanyaan.
Mungkin perjuangan masih sama beratnya.
Tetapi selama hati masih mampu berkata,
"Aku akan mencoba sekali lagi,"
maka harapan belum benar-benar pergi.
Sebab lelah bukanlah akhir cerita.
Ia hanyalah jeda
agar jiwa sempat mengingat,
bahwa setiap langkah yang tulus
tak pernah benar-benar sia-sia.
Dan ketika kelak semuanya selesai,
kita akan tersenyum kepada malam-malam seperti ini,
lalu berkata pelan,
"Terima kasih, wahai lelah.
Engkau memang berat,
tetapi tanpamu aku tak akan pernah tahu
betapa kuatnya diriku bertahan."
{Noel2026)