Mencari "Anak-Anak" yang Hilang

Sastra dan Budaya 31 Jul 2026 21:14 2 min read 31 views By Kang Tholib
Mencari "Anak-Anak" yang Hilang
"Mencari Harapan di Tengah Krisis Moral"

Mencari "Anak-Anak" yang Hilang

Oleh: Kang Tholib

"Kemana anak-anak itu?"

Pertanyaan sederhana dari Cak Nun itu sesungguhnya tidak sedang mencari anak-anak yang tersesat. Ia sedang mencari bangsa yang perlahan kehilangan jiwanya.

"Anak-anak" dalam puisi tersebut adalah metafora tentang harapan, kejujuran, keberanian, kasih sayang, dan cita-cita kemerdekaan yang dahulu dilahirkan dengan air mata, darah, dan pengorbanan para pendiri bangsa.

Hari ini kita menyaksikan pembangunan di mana-mana. Jalan diperlebar, gedung menjulang, teknologi berkembang begitu cepat. Namun di saat yang sama, kita juga menyaksikan kejujuran semakin mahal, empati semakin langka, dan kebenaran sering kali dikalahkan oleh kepentingan.

Barangkali, inilah yang dimaksud Cak Nun sebagai "anak-anak yang hilang". Mereka tidak benar-benar hilang secara fisik, tetapi tersisih oleh budaya yang lebih memuja kekuasaan daripada kebijaksanaan, lebih menghargai pencitraan daripada keteladanan.

Puisi itu tidak sedang menuduh siapa pun. Ia adalah cermin yang dipasang di hadapan kita. Di dalamnya, pemerintah dapat bercermin. Politisi dapat bercermin. Akademisi dapat bercermin. Tokoh agama dapat bercermin. Media massa pun harus ikut bercermin.

Media memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Pers bukan sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga akal sehat publik. Ketika media lebih memilih sensasi daripada substansi, maka media pun ikut kehilangan "anak-anaknya".

Sebaliknya, apabila media tetap berdiri di atas fakta, keberimbangan, dan kepentingan publik, maka ia sedang menjaga agar generasi mendatang tidak kehilangan arah.

Puisi Cak Nun mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari kualitas manusianya. Sebab peradaban tidak dibangun oleh beton, melainkan oleh karakter.

Maka, pertanyaan "Kemana Anak-Anak Itu?" seharusnya tidak berhenti menjadi judul puisi. Ia harus menjadi pertanyaan yang terus hidup dalam hati setiap pemimpin, setiap orang tua, setiap guru, setiap jurnalis, dan setiap warga negara.

Karena ketika kita berhenti bertanya, sesungguhnya kita telah menerima kehilangan itu sebagai sesuatu yang biasa.

Sorot Publik News percaya bahwa tugas pers bukan hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga menjaga nurani publik. Dan mungkin, dari sanalah "anak-anak" yang hilang itu perlahan dapat kita temukan kembali.