KKN UNISLA Kelompok 17 Kepudibener Bangun Enam Titik Biopori, Dorong Masyarakat Kelola Air Hujan dan Sampah Organik

Pendidikan 01 Aug 2026 19:46 3 min read 117 views By Aksara Kalijaga
KKN UNISLA Kelompok 17 Kepudibener Bangun Enam Titik Biopori, Dorong Masyarakat Kelola Air Hujan dan Sampah Organik
KKN UNISLA Kelompok 17 menggelar sosialisasi dan praktik pembuatan sumur resapan biopori di Desa Kepudibener serta membangun enam titik biopori untuk mendukung pelestarian lingkungan.

 

LAMONGAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Universitas Islam Lamongan (UNISLA) menggelar Sosialisasi dan Praktik Pembuatan Sumur Resapan Biopori di Balai Desa Kepudibener, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui pengelolaan air hujan dan pemanfaatan sampah organik rumah tangga.

Acara dimulai dengan registrasi peserta dan pelaksanaan pre-test guna mengukur pemahaman awal masyarakat mengenai sumur resapan biopori. Selanjutnya kegiatan dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan Kepala Desa Kepudibener, H. Sholikhin, serta Koordinator Desa KKN Kelompok 17, Hikmal Syabillah Syahadat.

Materi sosialisasi disampaikan oleh dua dosen Program Studi S1 Pendidikan IPA Universitas Islam Lamongan. Binar Ayu Dewanti, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Lapangan, menjelaskan pentingnya biopori sebagai solusi sederhana namun efektif untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, mengurangi genangan saat musim hujan, serta memperbaiki porositas dan sirkulasi udara di dalam tanah.

Sementara itu, Sri Setyaningsih, S.Si., M.Sc., selaku dosen tamu, memaparkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai bahan baku kompos. Menurutnya, melalui biopori masyarakat tidak hanya membantu menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga dapat mengurangi volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Usai penyampaian materi, peserta mengikuti kuis interaktif berhadiah dan mengerjakan post-test sebagai evaluasi peningkatan pemahaman setelah mengikuti sosialisasi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pemasangan satu titik terakhir sumur resapan biopori di Dusun Mlawe. Pemasangan tersebut melengkapi enam titik biopori yang telah dibuat di Desa Kepudibener, yakni satu titik di Dusun Pudikulon, satu titik di Dusun Pudiwetan, satu titik di Dusun Beneran, dan tiga titik di Dusun Mlawe. Lima titik telah dipasang sebelum kegiatan sosialisasi, sedangkan satu titik terakhir dipasang bersama masyarakat sebagai bentuk praktik lapangan.

Koordinator Desa KKN Kelompok 17, Hikmal Syabillah Syahadat, berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat.

"Kami berharap enam titik biopori yang telah dipasang dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Program ini diharapkan menjadi contoh agar warga dapat membuat biopori secara mandiri di lingkungan rumah maupun fasilitas umum desa," ujarnya.

Senada dengan itu, Dosen Pembimbing Lapangan Binar Ayu Dewanti, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah biopori yang telah dibuat, tetapi juga dari keberlanjutan pemanfaatannya.

"Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman secara teoretis, tetapi juga pengalaman langsung kepada masyarakat dalam pemasangan sumur resapan biopori. Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari enam titik yang telah dipasang, tetapi juga dari keberlanjutan perawatan dan pengembangannya oleh masyarakat," jelasnya.

Kepala Desa Kepudibener, H. Sholikhin, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN yang menghadirkan program edukatif sekaligus aplikatif bagi masyarakat.

"Pemerintah Desa Kepudibener menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengetahuan dan contoh nyata kepada masyarakat mengenai cara meningkatkan resapan air dan memanfaatkan sampah organik rumah tangga. Enam titik biopori yang telah dipasang diharapkan dapat dirawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Masyarakat yang mengikuti kegiatan memberikan tanggapan positif. Mereka menilai sosialisasi tersebut menambah wawasan mengenai fungsi, cara pembuatan, hingga perawatan sumur resapan biopori. Kehadiran praktik langsung di lapangan dinilai semakin memudahkan warga memahami proses pembuatannya sehingga dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Melalui program ini, KKN Kelompok 17 UNISLA berharap budaya menjaga lingkungan dapat tumbuh dari tingkat rumah tangga. Dengan semakin banyaknya biopori yang dibangun secara mandiri, diharapkan Desa Kepudibener mampu mengurangi potensi genangan air, meningkatkan daya resap tanah, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi masyarakat.