Mahasiswa KKN UNISLA Kelompok 2 Latih Ibu PKK Tambakploso Produksi Kerupuk Lele "TAPLORA", Dorong Lahirnya UMKM Bernilai Tambah
LAMONGAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Kelompok 2 menggelar pelatihan pembuatan kerupuk lele bertajuk "TAPLORA" (Tambakploso Olahan Renyah) sebagai upaya mendorong lahirnya produk UMKM berbasis potensi lokal yang memiliki nilai tambah ekonomi. Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Desa Tambakploso, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Minggu (26/7/2026).
Pelatihan diikuti oleh 15 anggota PKK Desa Tambakploso dan turut dihadiri Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bersama seluruh mahasiswa KKN UNISLA Kelompok 2.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh perwakilan Fatayat Desa Tambakploso, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai besarnya potensi budidaya lele sebagai komoditas unggulan desa yang dapat diolah menjadi produk pangan bernilai jual lebih tinggi.
Selanjutnya, peserta mengikuti demonstrasi sekaligus praktik langsung pembuatan kerupuk lele. Mulai dari proses pembersihan ikan, pengolahan adonan, pencetakan, hingga tahap penjemuran dilakukan secara bersama-sama dengan pendampingan mahasiswa KKN.
Tidak hanya mengajarkan teknik produksi, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pengemasan produk yang higienis menggunakan standing pouch, pembuatan identitas merek "TAPLORA", serta strategi pemasaran digital melalui media sosial agar produk mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Sebagai bentuk evaluasi, seluruh peserta mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman mengenai proses produksi maupun pemasaran. Di akhir kegiatan, peserta juga menerima contoh produk kerupuk lele hasil pelatihan sebagai bahan praktik lanjutan.
Program tersebut dilatarbelakangi melimpahnya hasil budidaya lele di Desa Tambakploso. Selama ini, sebagian besar petambak masih bergantung pada penjualan lele segar kepada tengkulak atau pasar tradisional. Kondisi tersebut sering menimbulkan kerugian, terutama ketika musim panen raya menyebabkan harga lele turun drastis. Selain itu, ikan lele berukuran tidak standar (off-size) kerap sulit dipasarkan sehingga belum mampu memberikan nilai ekonomi yang optimal.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa berharap masyarakat memiliki keterampilan mengolah hasil budidaya menjadi produk olahan yang lebih awet, memiliki nilai jual tinggi, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi keluarga.
Koordinator Desa (Kordes) KKN UNISLA Kelompok 2, Muhammad Syafiq, berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan setelah masa KKN berakhir.
"Program pelatihan ini tidak berhenti sebatas seremonial atau agenda KKN semata, melainkan benar-benar dapat dilanjutkan secara konsisten oleh ibu-ibu PKK Desa Tambakploso. Produk kerupuk lele 'TAPLORA' memiliki potensi pasar yang sangat besar. Kami berharap masyarakat terus berinovasi memanfaatkan hasil tambak lokal, sementara bagi mahasiswa, pengalaman pemberdayaan ini menjadi bukti nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus bekal saat terjun di tengah masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, para peserta mengaku pelatihan tersebut memberikan manfaat yang nyata. Selain menambah wawasan mengenai teknik pengolahan lele yang baik, kegiatan ini juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha olahan berbasis potensi desa sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Melalui inovasi sederhana namun aplikatif ini, KKN UNISLA Kelompok 2 menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial, tetapi juga mampu menghadirkan solusi ekonomi yang berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi lokal secara optimal.(SPN)