Narasi Bangkrut Indonesia dan Ujian Kepercayaan Publik

Opini 06 Aug 2026 07:53 2 min read 6 views By Kang Tholib
Narasi Bangkrut Indonesia dan Ujian Kepercayaan Publik
Belakangan ini, pemberitaan dua media asing, De Volkskrant dari Belanda dan The Australian dari Australia, kembali memantik diskusi mengenai kondisi e...

Belakangan ini, pemberitaan dua media asing, De Volkskrant dari Belanda dan The Australian dari Australia, kembali memantik diskusi mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu artikel De Volkskrant bahkan menggunakan judul provokatif, "Is Indonesia on the Way to Bankruptcy?" atau "Apakah Indonesia Sedang Menuju Kebangkrutan?".

Perlu dipahami sejak awal, judul tersebut berbentuk pertanyaan, bukan sebuah kesimpulan bahwa Indonesia sudah atau pasti akan bangkrut. Namun, dalam dunia media, judul semacam ini memang dirancang untuk memancing perhatian sekaligus mengajak pembaca menelaah berbagai indikator ekonomi yang sedang berkembang.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menanggapi berbagai kritik tersebut dengan menyebut adanya pihak-pihak yang terus menggambarkan Indonesia berada di ambang krisis. Dalam salah satu pidatonya, ia menggunakan istilah "londo ireng" untuk menyindir oknum yang dinilai gemar menyebarkan pesimisme terhadap masa depan ekonomi nasional.

Terlepas dari pilihan diksi yang menuai pro dan kontra, substansi yang perlu menjadi perhatian publik bukanlah perang narasi antara pemerintah dan para pengkritiknya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kondisi ekonomi Indonesia benar-benar dikelola secara sehat, transparan, dan mampu menjawab tantangan global.

Memang tidak dapat dipungkiri, nilai tukar rupiah, dinamika pasar modal, tekanan fiskal, serta besarnya kebutuhan anggaran negara merupakan indikator yang layak dikritisi. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kewajiban memastikan berbagai program prioritas berjalan efektif tanpa mengganggu stabilitas fiskal jangka panjang.

Kritik terhadap pemerintah dalam negara demokrasi merupakan hal yang wajar. Sebaliknya, pemerintah juga berhak menjelaskan kebijakan yang diambil beserta dasar pertimbangannya. Yang perlu dihindari adalah berkembangnya narasi yang tidak berbasis data sehingga justru menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Indonesia telah beberapa kali menghadapi guncangan ekonomi, mulai dari krisis 1998, pandemi Covid-19, hingga tekanan ekonomi global. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kepercayaan masyarakat, dunia usaha, dan investor.

Karena itu, publik sebaiknya menyikapi berbagai pemberitaan, baik dari media dalam negeri maupun luar negeri, secara kritis dan proporsional. Informasi perlu dibaca secara utuh, bukan hanya berhenti pada judul yang sensasional.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar optimisme tanpa dasar ataupun pesimisme berlebihan. Yang lebih penting adalah kebijakan yang tepat, pengelolaan anggaran yang akuntabel, serta ruang kritik yang tetap sehat sebagai bagian dari pengawasan publik terhadap jalannya pemerintahan.

Sorot Publik News berpandangan bahwa demokrasi yang kuat lahir dari keseimbangan antara kebebasan menyampaikan kritik dan keterbukaan pemerintah dalam menjawabnya. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, keduanya menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap masa depan Indonesia.

Recent Articles